Selasa, 02 Januari 2018 - 22:56:15 WIB
Polres Tegal Kota Didesak Tindaklanjuti Pengaduan Ikatan Jurnalis Tegal
Diposting oleh : Kabarberitaku
Kategori: Hukum Kriminal - Dibaca: 136 kali


Ketua IJT Dian Brayanti saat didampingi sejumlah rekas media dan LSM mengadukan dugaan perbuatan tidak menyenangkan dan pelecehan seksual ke Polres Tegal Kota.(Foto: Dok)



Kabarberitaku.com, ( Tegal)- Kepala Kepolisian Resor Tegal Kota (Kapolres) AKBP Jon Wesly Arianto SIK didesak segera melakukan proses penyilidikan kasus dugaan pelecehan terhadap seorang wartawati yang juga Ketua Ikatan Jurnalis Tegal ( IJT ) , Dian Brayanti oleh oknum wartawan harian lokal Tegal, AW.

“ Dan perlu diketahui, kasus ini ( Laporan Pengaduan Dian- red) sudah ramai dibicarakan masyarakat luas . Jadi siapapun yang melanggar hukum ya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum,” tegas ketua Dewan Pimpinan Cabang ( DPC ) Yayasan Buser Indonesia ( YBI) kota/ Kabupaten Tegal, Vidi Trimurtiono, kepada kabarberitaku.com, Selasa ( 02/01/2017).

 

Pria yang akrab dipanggil Pak Dhe Vidi menegaskan, mengingat pengaduan sudah berlangsung hampir 30 hari , tentu pihak kepolisian harus berusaha menyelesaikannya sesuai aturan hukum. “Jadi apapun profesinya kalau dia melakukan tindak pidana ya harus diproses hukum. Contoh missal saya saya ini melanggar pidana, maka ketika disidik penegak hukum ya saya Vidi. Ingat semua sama di hadapan hukum, equality before the law,” tegasnya.

Ketika ditanya soal pengaduan ketua IJT yang didampingi insan pers dan sejumlah LSM ,kemungkinan pelaku menggunakan upaya-upaya untuk lepas dari jerat hukum. Vidi langsung menyatakan, bahwa tidak semudah itu untuk lepas dari jeratan hukum. “Kalau sudah ada bukti permulaan cukup paling tidak adanya dua alat bukti, dan ditentukan melalui gelar perkara, maka seseorang bisa ditetapkan sebagai tersangka, karena unsur penting dari pelecehan seksual adalah adanya ketidakinginan atau penolakan pada apapun bentuk-bentuk perhatian yang bersifat seksual.

Sehingga bisa jadi perbuatan seperti siulan, kata-kata, komentar yang menurut budaya atau sopan santun (rasa susila) setempat adalah wajar. Namun, bila itu tidak dikehendaki oleh si penerima perbuatan tersebut maka perbuatan itu bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual," tandasnya.

Menurut Vidi , pembuktian dalam hukum pidana adalah berdasarkan Pasal 184 UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), menggunakan lima macam alat bukti, yaitu, keterangan saksi,keterangan ahli,surat,petunjuk,keterangan terdakwa." Sejak pengaduan belum ada saksi, baik saksi pelapor ataupun saksi lainnya termasuk keterangan terlapor yang dipanggil oleh pihak penyidik Polres Tegal Kota, oleh karena itu kami mendesak kepada Kapolres Tegal Kota, untuk menindaklanjuti persoalan ini agar tidak menimbulkan pertanyaan di masyarakat," pungkasnya.

Sementara salah seorang Jurubicara Ikatan Jurnalis Tegal ( IJT ), Nur Said MM menyampaikan, pelecehan terhadap profesi wartawan tidak boleh didiamkan begitu saja.Terlebih yang bersangkutan adalah seorang perempuan. " Pelecehan terhadap pekerjaan wartawan, bukan hanya pelecehan, tindak kekerasan juga dialami para jurnalis di berbagai daerah. Sedangkan kepada jurnalis saja pun mereka melakukan pelecehan, bagaimana pula dengan masyarakat biasa, para petani, buruh, nelayan dan masyarakat kecil lainnya? Ini tidak boleh didiamkan. Hukum harus ditegakkan, sanksi yang tegas kepada oknum yang begitu,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya ketua Ikatan Jurnalis Tegal ( IJT ) Dian Brayanti, mengadukan peristiwa dugaan perbuatan tidak menyenangkan dan pelecehan seksual oleh oknum bernama AW yang dialaminya kepada pihak Kepolisian Resor Tegal Kota Kamis ( 14/12/2017) siang sekitar pukul 10.00 WIB. ( Soleh/kbk)




BERITA TERKAIT