Jumat, 19 September 2014 - 01:22:14 WIB
Kekerasan di SUPM Negeri Tegal Sudah Tradisi ?
Diposting oleh : Jabur Pantura
Kategori: Hukum Kriminal - Dibaca: 14150 kali


 

Kekerasan senior terhadap Junior di kalangan siswa Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Kota Tegal, disanyalir sudah menjadi tradisi. Bahkan diduga kekerasan tersebut dilakukan secara diam-diam di lingkungan sekolah maupun saat berada  di luar lingkungan sekolah.

Salah seorang Alumnus SUPM Negeri kota Tegal, Alimin ( 28 ) kepada Jurnal Warga , tidak menampik jika tradisi pembinaan dengan dalih senioritas dengan melakukan kegiatan berbau kekerasan terhadap junior di SUPM Negeri kota Tegal memang ada. “ Saat saya dulu memang ada, namun sekarang saya kurang tahu,” kata  alumnus  angkatan 2004 belumlama ini.

Menurut siswa yang pernah mengeyam jurusan penangkapan Ikan Dek,  tradisi pembinaan senior terhadap junior biasanya dilakukan secara diam –diam oleh oknum – oknum siswa nakal  tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Biasanya, lanjut Alimin, kekerasan berdalih pembinaan, hukuman berbau fisik juga sudah biasa diterap kan siswa senior terhadap junior yang melakukan pelanggar an, seperti telat, bolos, hingga tidak melaksanakan piket.” Ya biasanya yang ringan disuruh pus up,” kata dia enggan menyebutkan secaraa jelas bentuk lain kekerasan yang dilakukan

Diperoleh informasi, bahwa kompleks asrama dilingkungan SUPM Negeri kota Tegal, dibedakan antara  siswa senior dan junior berdasarkan letak kamar-kamar yang ditempatinya.Dari sumber Jurnal Warga letak kamar tiap angkatan ditempatkan berbeda.Tradisi kekerasan senior ter hadap junior seolah sudah menjadi budaya di kalangan siswa untuk menanamkan rasa hormat junior kepada seniornya. “ Tidak ada dendam, karena itu semacam unggah-ungguh ,” katanya.

Sumber koranlokal.com, mengaku tidak kaget dengan tewasnya  seorang siswa SUPM Tegal, Galih Masrukhi (16) tewas, pada  Minggu (22/06/2014) malam. Diakibatkan dari tindak kekerasan senior terhadap ju nior yang dilakukan di luar lingkungan asrama.

 Terkait hal itu kepala Kepala SUPM Negeri Kota Tegal Anasri Tanjung saat , tidak secara tegas membantah maupun me ngiyakan. “ Selama 5 bulan saya menjadi kepala Sekolah , saya melakukan pendekatan kepada siswa- siswi tidak tidak ada tindak kekerasan, maka dari itu saya tidak menolak itu (kekerasan) tidak ada,” kata dia kepada Jurnal Warga.

Anasri mengatakan, untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan ataupun pe langgaran oleh siswa – siswi diupayakan sekolah dengan melakukan pengawasan selama 24 jam pe - nuh. “Ada namanya pengatur an piket guru, pagi, siang, sore, dan malam hari. Itu se menjak dulu pengawasan selain melibatkan guru, juga melibatkan TNI, pem binaan disiplin, juga 24 jam. Di dalam (lingkungan seko lah) sangat ketat, terus te rang sangat ketat. Dari pengakuan siswa, sulit untuk mela kukan pelang garan. Kenyataannya memang begitu,” papar Anasri.

Disinggung terkait sanksi bagi siswa yang menjadi pelaku penganiayaan, Anasri menya ta kan akan menunggu proses hukum dari kepolisian. Sanksi akan dijatuhkan dengan melihat tingkat pelanggaran yang di lakukan, apakah ringan, sedang, berat, atau sangat berat. Adapun sanksi yang dijatuhkan maksimal adalah dikeluarkan dengan tidak hormat. “Sampai sekarang kan masih dalam proses. Kita juga sampai sekarang masih belum tahu siapa pelakunya, kemudian berapa orang yang menjadi tersangka, kita belum tahu sama sekali,” ungkapnya.

Untuk mencegah kasus serupa terulang, Anasri mengatakan akan segera mengundang para orang tua siswa untuk menentukan langkah-langkah pencegahan. “Kekerasan terjadi saat siswa sedang libur akhir semester. Di bawah pengawasan orang tua. Ini di luar dugaan kita. Kita sangat prihatin dan terkejut,” ujar Anasri.

Seperti diberitakan , salah satu siswa kelas X SUPM Negeri Kota Tegal, Galih Masrukhi, 16, tewas setelah mengalami penganiayaan dari puluhan seniornya yang duduk di kelas XI. Tindak kekerasan berdalih pembinaan itu dilaku kan di rumah salah satu senior bernama Boni Setiono di Desa Bongkok, Kecamatan Kramat, Tegal, Minggu (22/6/2014) malam. Selain Galih, terdapat 20 sisw a seangkatan Galih yang ju ga mendapat kekerasan di tempat yang sama.

Mereka diminta datang ke rumah tersebut dengan dalih untuk mengikuti acara makan-makan kenaikan kelas. Sebelum acara makanmakan digelar, mereka diminta berbaris dan selanjutnya dipu - kuli dengan tangan kosong di bagian organ vital. Kemarin penyidik Polres Te - gal kembali menetapkan tiga tersangka baru dalam kasus te - wasnya Galih. Dengan demi ki - an, sudah ada 21 tersangka yang seluruhnya adalah siswa kelas XI.

“Dari keterangan saksi, ada 22 siswa yang melakukan pe nganiayaan. Ini baru 21 yang su - dah ditetapkan sebagai ter sangka, satu pelaku lagi masih dicari ( DPO ). Kami imbau untuk menye rahkan diri,” tandas Kasatreskrim Polres Tegal AKP Yusi Andi Sukmana saat ditemui kemarin.

 Para tersangka itu akan di - jerat dengan pasal berlapis, yakni Pasal 80 ayat 3 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlin - dung an Anak dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun serta Pasal 170 ayat 2 ke 3E KUHP tentang penganiayaan hing ga menyebabkan nyawa orang melayang dengan ancam - an hukuman maksimal 12 ta - hun, subsider Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan ber sama-sama dengan ancam - an hukuman maksimal 7 tahun.

Dari 21 tersangka tersebut, terdapat tiga orang yang men jadi perencana tindakan ke ke rasan, yakni Boni Setiono, HD, dan PY. “Tersangka BS ini pe milik rumah yang dijadikan tempat peng aniayaan. Dia ikut merencanakan dan memukuli,” pa par Yusi. Yusi menambahkan, dari 21 tersangka yang sudah ditetapkan, 15 di antaranya masih ber ada di bawah umur.“Saat ini para tersangka kami titipkan di tahanan khusus anak di Tegalandong, dan berkas kasusnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Slawi,” ungkapnya. (Rosvita/KBk)

 




BERITA TERKAIT